Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Questioning the Authenticity of Music Performance


"As a simple rule, 'slow' movements should move along gracefully, never drag, while 'fast' movements should never express haste, and should always respect the player of the fastest notes, so that every note is distinct. As Alessandro Scarlatti wrote in a letter to the Grand Duke Ferdinando de' Medici: Where 'grave' is marked, I do not mean 'melancolico'; 'allegro' should be judged so that too much is not demanded of the singer. And the literal translation of the Italian Vivace is 'lively' - not ultra-fast!"


 "Many 'authentic' performances also adopt unsteady tempi, so that the music seems to move in waves, or fits and starts, ignoring the fact that a regular tempo was universally accepted in baroque times when the major concern was keeping unruly players and singers together."

"When the harpsichord emerges into its beautiful solo cadenza it is barely audible; indeed in one recent 'authentic' recording the harpsichord volume is actually turned up for the solo, either during the recording, the mixing or mastering - a shameful practice hardly worthy of any self-respecting recording company!"

"In the case of Bach's cantatas and choral works, most performances and recordings use a small portable organ for the continuo, ignoring the church's main organ in the gallery. This arrangement, while no doubt preferred by conductor and recording engineer, may be adequate for the accompaniment of arias and recitatives, but not for the opening choruses in cantatas such as 29 and 146 which feature what amounts to a solo organ concerto movement. Here the thin, almost pitiful sound of the little chamber organ is simply not up to the task."

"Another very prominent feature of string playing in today's 'authentic' performances is the almost total absence of vibrato, resulting in a flat, plaintive and lifeless tone. It seems quite unclear as to where this aspect of 'authenticity' derived from, since much evidence supports quite the contrary view. .... There are also many references in baroque musical literature, both to the importance placed on warmth and vibrato in vocal performance, and to the ideal in violin playing of replicating the human voice."

Quoted from Baroque Music Performance: 'Authentic' or 'Traditional' by Michael Sartorius

Senin, 24 Maret 2014

RV 589

I'm so happy since I've finished converting Gloria RV 589 by Vivaldi into numbered musical notation. I got the original score free from IMSLP and CPDL. I translated the score because it's easier for me to read the numbered one.
I won't post the score here, but it can be found on my other blog. I do not post the full score, just the first movement from twelve ones, since I'm bored converting each single pages into PNG file. Okay, It's actually a simple work. But, repeating that conversion up to 30 pages is no fun. So, I keep the full score as PDF.
If you want it, ask to 4nachthorn@gmail.com. It's free, just like the original one.
Also, I thank to Rikardo Ladesman Lumban Tobing who had invented Parnumation font I used in the score.

*Just hoping someone will rearrange the 1st movement to be played by brass band and record it. The 1st mov has a beautiful impression of fanfare.



Selasa, 10 Desember 2013

Music of the Week (5)


Setelah seminggu belakangan disibukkan dengan Freshformance yang sedikit banyak mengganggu irama tubuh (utamanya jadwal tidur), seneng banget bisa tidur malam dengan jam normal. Lebih seneng lagi bisa buka-buka laptop, ngedengerin lagu-lagu favorit. Ya, selama Freshformance kemarin rasanya ga ada waktu buat ngidupin laptop; waktu luang yang tersedia hanya dialokasikan untuk tidur atau istirahat.

Nah, lagu apa yang paling cocok digunakan untuk me-refresh otak setelah seminggu dijejali lagu cinta-cintaan? Yah, lagu-lagu di Freshformance emang bukan lagu alay kok. Lagunya bagus-bagus sih, cuman guenya ga ada rasa. Benci enggak, suka juga enggak. Nah nah nah… untuk melepaskan diri dari kemonotonan dan kebosanan yang terakumulasi selama seminggu belakangan, lagu-lagunya Libera kayaknya bisa memunculkan kembali optimisme hidup.

Siapa tu Libera? Ga ada hubungannya ama JIL kan?

Ya enggak lah…. Libera alias My Cutie Boys alias My Little Angels (dan entah apa lagi julukan yang akan kuberikan nantinya) adalah grup vokal dari Inggris. 

Libera tuh grup baru?
Bukan…. Emm…. Mereka mengeluarkan single pertama sebagai Angel Voices tahun 1987. Tahun berikutnya, 1988, mereka meluncurkan album perdana, Sing for Ever.

Alamak…. Zaman segitu gue belum lahir. Wah, umur grupnya udah lebih dari dua puluh tahun cuy, udah pada tuwir dong anggotanya?
Ya…. Alumni generasi awal emang harusnya udah pada tua. Tapi kalo loe nonton di Youtube, loe bakalan liat anak-anak nan innosen dan imut nyanyi bareng.

Loh, kok anak kecil semua isinya? Anggotanya ganti-ganti?
Betul. Libera dibentuk dengan tujuan mengeksplorasi keindahan suara boy soprano atau treble yang hanya dimiliki anak-anak lelaki yang belum dewasa. Untuk menjaga karakter angelic itulah diperlukan regenerasi berkelanjutan. Setiap tahun Libera merekrut adik-adik kecil berusia tujuh tahunan untuk bergabung. Kakak-kakak anggota lama yang memasuki masa pubertas dan mengalami pergantian suara menjadi suara dewasa dengan lapang hati mengistirahatkan diri dari peran sebagai penyanyi di Libera. Beberapa kakak yang beruntung dalam mempertahankan karakter angelic-nya bisa bertahan hingga usia 16 tahunan. Meski sudah tidak aktif menyanyi di Libera, beberapa kakak dewasa tetap berperan dengan menjadi pelatih, director, atau pun arranger lagu-lagu yang dinyanyikan Libera.

Kok ga terkenal sih?
Eh, jangan salah. Libera udah sering tur keliling Eropa. Mereka juga rutin ke Amerika Serikat, Korea, Jepang, dan China. Emang sih, di Indonesia mereka ga sepopuler artis-artis pop luar negeri. Pertama, Libera adalah not-for-profit organization. Mereka berkarya atas dasar cinta dan pelestarian tradisi boy soprano, jadi ngiklannya juga ga seheboh-heboh artis komersil. Pendanaan mereka ditopang oleh donasi dari para penggemar. Kedua, genre musik Libera bukan jenis musik populer yang banyak crek cres jedhung jedhung jreng. Iringan musiknya cenderung sangat minimalis dengan tujuan mengekspos angelic voice para anggotanya. Lagunya pun jenis yang mengalun, mengalir indah ke angkasa raya, membahana dan menari-nari di udara. Lagunya ga alay kok, penjelasan gue doang yang lebay. Masyarakat Indonesia saat ini sih memang belum familiar dengan jenis beginian.

Loe bilang Libera ditopang donasi kan, loe udah ngedonor berape duit?

Belum pernah, hehe….

Ada CD atau DVD mereka yang bisa dikoleksi?
Mereka udah bikin banyak kok. Toko musik bonafid ada yang jualan. Cuma gue lupa nama tokonya apa aja.

Loh, kok lupa? Loe belum pernah beli ya?
Belum hihi X) Selama ini gue masih numpang nonton gratis di Youtube doang….

Ada contoh lagu-lagu yang bagus?
Nih, pantengin.

Time


 Song of Life


Eternal Light


Quote:
With shimmering, mystical chords and ecstatic harmonies, they are unlike any other group you have ever heard. These are truly sounds to lift the soul. Celestial sounds for a new time.
Although they are boys and they sing, they do not think of themselves as choirboys, but rather as an alternative kind of boy band.


Selasa, 04 Juni 2013

Table of Harmonics

This is a table of harmonics made by me using Ms Excel. This is so useful (in my opinion) for microtuning in Musescore to make just-in-tune chords. This table only contains up to 16th harmonic (just because higher level harmonics are so rarely used, except for the octaves of lower ones XD), both of Overtone series and Undertone series.
For calculating purpose, the fundamental is chosen from standard pitch, A4=440 Hz. In practice, it can use any pitches. The unison and octaves of fundamental have zero deviation because it's assumed to be perfectly match to Equal-Tempered counterpart.


Selasa, 31 Juli 2012

Belajar Tracing: Amazing Grace

Hai hai....
Hm....
Bengong

Yah.... Daripada bengong, mending bikin sesuatu. Yaps, akhir-akhir ini aku lagi pengin banget belajar nulis partitur gitu.... Habisnya selama ini tiap nulis nada-nada yang udah terangkai di kepala hampir selalu terhambat akibat buta not dan salah tulis durasi. Grr.... Inspirasi yang udah bagus dengan mudahnya menguap karena lambannya aku nulis partitur.
Nah, ini ada lagu yang pengin banget aku dapetin partiturnya, tapi ternyata emang ga dipublikasikan sama arranger-nya. Jangankan mau ngunduh gratis, beli aja ga dikasih; lha wong ga dijual! (Eh, ga tau juga sih dijual apa kaga, soalnya aku belum nanya. Tapi ngeliat aransemen Pachelbel's Canon-nya ga dijual, kayanya yang ini juga kaga.) Wah bagus ini kalau aku bisa nulis ulang, itung-itung sambil latihan.
Lagu yang ingin aku tulis ulang aransemennya adalah.... Teret-teret tetet.... (suara Trumpet Mirabilis memainkan fanfare) Dum dum dum jres ces! (marching band main) *ini apaan sih?
Ya, langsung aja, lagu yang dimaksud adalah Amazing Grace. Itu loh, lagu bikinan John Newton (ga penting dia punya hubungan darah ama Isaac Newton atau kaga, yang penting dia yang bikin itu lagu). Si Wiki bilang, dia bikin itu lagu tahun 1700-an! Wuih, kuno banget. Dan dasarnya aku emang suka ama yang jadul-jadul, jadilah jatuh hati ke lagu ini.
Aransemen yang pengin aku tulis ulang ini adalah bikinan Kevin McSheffrey dari Renfrew, Ontario, Kananda, dinyanyikan oleh oktet gabungan dua kuartet asuhan Pak Kevin, yaitu The Four Quarters dan Four Strong Winds. Di video ntar dapat dilihat ada dua baris penyanyi. Barisan belakang, suara sopran, dari kiri ke kanan adalah Christine Helferty (FSW), Rachel Helferty (FQ), Bailey Rogers (FSW), dan Catherine Helferty (FQ). Barisan depan ada suara alto, dari kiri ke kanan adalah Molly Helferty (FSW), Sarah McSheffrey (FQ), Lindsay Vaive (FQ), dan Natalie Walters (FSW).
Seneng banget deh ama ini lagu. Nulisnya banyak kebantu ama videonya. Untung semua penyanyinya menghadap ke kamera, jadi ngeliat mulutnya bisa tahu mana yang lagi nyanyi mana yang kagak. Untung juga bentuk aransemennya counterpoint, bukan chordal atau monophony, jadi bisa fokus ke masing-masing suara. Meski begitu, karena emang akunya yang amatir, suka bingung ngebedain masing-masing suara kalau mereka pada bunyi bareng. Sopran 1 sama Alto 2 adalah yang lumayan gampang diidentifikasi karena mereka emang suara-suara luar. Suara dalemnya, Sopran 2 dan Alto 1, grr.... Bikin bingung deh, kadang kaya timbul tenggelam gitu di telingaku, hahaha.... Apapun itu, harus disyukuri. Pada percobaan pertama tanggal 11 Juli 2012, aku udah berhasil tracing sampai bait ketiga, itupun beberapa bagian yang make lebih dari empat suara masih perlu dipoles karena aku udah kehilangan jejak. Karena udah capek, udahan deh sehari itu doang. Belakangan, aku udah permak dikit-dikit, tapi tetep aja masih tiga bait doang. Hoa hahaha....

Nah, ini nih videonya.
Yang ini dari channel-nya Four Strong Winds.

Yang ini dari channel-nya The Four Quarters.

Selamat Menikmati!