Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2015

Gawat Darurat

Ada hal yang terjadi di desa sebelah yang cukup membuatku tidak tenang. Bahkan hingga sekarang masih membuatku terbayang-bayang. Aku harus bertindak sesegera mungkin supaya hal ini tidak bertambah runyam.

Beberapa minggu yang lalu aku dikabari salah seorang teman bahwa tepi jalan perempatan desanya sedang ditanami kembang kertas oleh kelompok karang taruna. Well, aku sendiri nggak yakin anggota karang taruna sana masih muda, palingan juga udah mulai berumur. Awalnya sih aku nggak tertarik ya, tapi lama-lama penasaran juga hasilnya kaya gimana.

Aku pun berkunjung ke sana. Dan wow wow wow wow! Di tepian jalan berderet-deret kembang kertas (Zinnia elegans) bermekaran. Warna-warni pula. Emang sih ya, 'cuma' kembang kertas. Tapi aku sendiri sejak dulu meyakini bahwa kembang dari kelompok Asteraceae sebetulnya memang indah. Apalagi kalau menanamnya berderet-deret. Haduh, biarpun cuma perempatan kecil, samping sawah pula, tapi kelihatannya jadi keren. Aku kan jadi pengin punya juga.

Tapi kalau ingat bahwa yang menanam itu kelompok karang taruna, harga diri gue jadi agak terusik. Ya iyalah, masa gue kalah sama aki-aki kampung sebelah? Gue juga bisa bikin yang kaya gitu. Cuma gue musti nyari tanah dulu buat ditanami, soalnya halaman depan sama empang sudah tidak begitu memungkinkan untuk ditambah tanaman lagi. Ditambah, Gue gue kalah start.

Lebih gawat lagi, rumah-rumah sekitar perempatan ikut-ikutan menanam bunga yang sama. Bisa diperkirakan, beberapa minggu lagi Boyolangu bakalan kalah indah nih. Ini memang tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera melakukan seusatu.


***

Oke, tulisan pembuka tadi emang lebay. Tapi gue ngga bohong kalau perempatan Kendalbulur jadi kelihatan oke gegara tanaman Zinnia yang lagi blooming. Gue harap gang depan rumah gue juga bisa kaya gitu, kalau perlu lebih indah.

















Ralat per 16 Mei 2015: Ketika aku main ke rumah temen dan lewat perempatan Kendalbulur, aku melihat beberapa pemuda tengah menyiangi tanaman bunga. Sepertinya merekalah anggota karang taruna. Jadi sebetulnya mereka bukan aki-aki seperti yang kutulis di atas, hihihihi....

Selasa, 06 Januari 2015

Senna alata Berbunga

Hore...! Akhirnya kembang Senna alata yang kutanam di pinggir empang berbunga. Warna kuning cerah, cantik banget. Bunganya lumayan banyak yang mekar.

Aku udah ga ingat kapan aku mulai menanam candle tree ini. Yang jelas, dulu waktu kupindah dari pot ke tanah tingginya masih 10-an cm. Sekarang? Udah lebih tinggi dari tubuhku.

Nih gambar-gambanya.






Tau nggak yang paling bikin seneng apa? Ada kumbang-kumbang hitam berpunggung kuning yang mengerubungi pohon ini! Aga susah sih difoto, soalnya terbangnya lumayan gesit. Ini yang berhasil kufoto.


Selasa, 09 Desember 2014

My Garden is Blooming



Look at my garden! It’s full of blossoms. Nggak bener-bener full of blossoms juga sih, tapi ada tanda-tanda mengarah ke situ, hehehe....

Ini musim hujan emang luar biasa. Keren abis. Ga sia-sia musim kemarau kemarin aku susah-susah menanam bunga, berpeluh-peluh mengairi benih di bawah terik matahari. Sekarang mereka sudah siap untuk tumbuh sesubur yang mereka bisa. Aduh, senangnya hatiku....



Ini pojokan jalan dulunya gersang-gersang gimana gitu. Sekarang udah hijau dan cantik. Lebat dan subur.
Tanaman Celosia ini gampang banget lebat. Dulu udah pernah kupangkas sekali. Sekarang udah bushy aja. Waktunya dipangkas lagi.


Ini tepi jalan dulu cuma ditumbuhi rumput liar. Sekarang penuh dengan bunga. Musim hujan belum lama dimulai, tapi mereka sudah tumbuh dengan lebat.



Ini candle tree yang dulu bibitnya kuambil di sawah. Dia udah mulai berbunga loh.... Sungguh aku ingat dulu aku menyemai beberapa bijinya, tapi hanya sedikit yang tumbuh. Benihnya belum ada sejengkal tingginya ketika kupindah ke kebun. Dulu ini pernah dimakan ulat hijau dan aku benar-benar khawatir apakah dia bisa tumbuh subur atau tidak. Tapi nyatanya dia sekarang sudah memunculkan kuncup-kuncup bunga kecil. Bahagianya hatiku.



Ini benih kembang insulin yang bijinya juga kuambil dari sawah. Waktu tunasnya kutanam, kira-kira tingginya masih 5 cm-an. Tunasnya itu kelihatannya rapuh banget, batangnya kecil. Lha sekarang, dia sudah menyamai tinggiku. Batangnya lumayan kuat dan sepertinya masih akan tumbuh lebih tinggi lagi. Daunnnya lumayan besar, kira-kira selebar daun singkong.



Ini tanaman pacar keling yang dulu kubeli di kebunbibit.com. Dulu waktu datang diantar jasa ekspedisi, bibitnya agak stres gitu. Beberapa hari setelah kutanam, daunnya rontok semua. Dulu masih pendek sih, kira-kira 20 cm-an. Sekarang mencapai 1 meter. Daunnya lebat.


Eh, ada serangga cantik warna merah  berkilau.


Kembang yang ini aku ga tau namanya. Dia biasa tumbuh liar di pinggir jalan. Aku suka kembang ini kareng dia biasa dikerubungi serangga. Dulu sewaktu SD, teman-temanku suka lomba menangkap lebah pakai bunga ini. Maksudnya ketika lebahnya lagi menghisap nektar di dalam bunga, mahkota bunganya buru-buru ditutup dan bunganya dipetik. Cara ini biasanya lumayan berhasil untuk menangkap serangga.


Ini kembang Celosia yang dulu kubeli dari kebunbibit.com. Gegara ga langsung kutanam, beberapa benihnya membusuk karena kutaruh sembarangan. Cuma satu ini aja yang berhasil tumbuh.



Bunga kana ini sudah lumayan lebat. Dia juga lumayan rajin berbunga.





Ga boleh lupa sama kembang kenikir favoritku dong ya.... Gambar kembang kenikir ini biasanya paling gampang diedit jadi cetar membahana.




Ini nih, ladang jagung yang kemarin dipakai buat malam mingguan.


Minggu, 30 November 2014

Aku dan Bunga Kamboja



Aku menyukai bunga kamboja. Menurutku, tanaman kamboja itu terlihat anggun. Ketika bunganya mekar serempak, terlihat sangat indah.

Aku sendiri agak kebingungan bagaimana mau menanam kamboja. Soalnya tanamannya yang kecil lumayan mahal. Apalagi pohonnya yang sudah berukuran besar. Tapi untungnya di sekolah aku sempat memungut biji kamboja yang sudah masak. Biji itu kubawa pulang dengan niat akan kusemai supaya tumbuh, namun sayangnya kemudian ia hilang.

Waktu demi waktu berlalu. Entah sudah berapa bulan sejak benih kambojaku hilang. Aku bertandang ke rumah kakak sepupuku. Eh, di sana aku menemukan pot berisi dua tanaman kamboja kecil di depan rumahnya. Aku tanya dapat darimana, eh, dia bilang dapat dari ibuku. Loh, kok aku nggak tahu kalau ibu pernah punya bunga kamboja? Jangan-jangan.... Selidih punya selidik, ternyata sewaktu baru tumbuh, tanaman itu dikira benih alamanda, soalnya bentuk daunnya sewaktu kecil emang mirip sih. Saudaraku itu emang pengin bunga alamanda. Kemudian aku berpesan kalau dia ga suka tanaman itu boleh dikasih ke aku, hahaha....

Beberapa hari kemudian terdengar kabar mengejutkan. Suami sepupuku membuang kembang kamboja itu. Katanya dia tidak suka dengan kembang kuburan. Aku syok. Untungnya kakak sepupuku menemukannya di tumpukan sampah. Akhirnya kembang itu dikasih ke aku.

Nah, aku dapat dua batang bibit kamboja. Satu kutanam di sebelah bibit durian milik bapak. Satunya lagi sudah terlanjur kering batangnya, kupotong ujungnya yang masih segar buat ditanam. Seteknya kutanam di gelas plastik, tapi karena keseringan kusiram malah jadi busuk. Untung yang kutanam di sebelah pohon durian tumbuh sehat.

Waktu demi waktu berlalu. Suatu ketika aku menengok kembang kambojaku. Tetapi yang kulihat hanya sebatang pohon durian setinggi satu setengah meter yang tumbuh sendirian. Aku yakin sekali bahwa kembang kambojaku dicabut orang. Aku heran. Sepertinya orang-orang tidak menyukainya. 




Aku pun berkeliling di sekitar pohon durian. Di bawah rumpun pisang aku menemukan bibit kambojaku dalam keadaan kering dehidrasi. Daunnya rontok semua. Aku berharap di tidak sedang sekarat.

Buru-buru kubawa ke kebun dekat empang. Aku tanam di sana karena sepertinya tidak akan ada yang mengganggunya di sana. Kututupi tanah sekitarnya dengan rerumputan supaya tidak lekas kering sehabis disiram.

Sungguh beruntung, tanaman kamboja memang cukup tangguh. Sekarang dia telah sehat. Daunnya mulai rimbun. Pertumbuhannya memang lambat. Tapi aku menyayanginya. 


Minggu, 27 Juli 2014

Berburu Bunga Kana

Hari ini aku main ke sawah desa sebelah buat nyari bunga kana. Aku ingat bener di salah satu belokan jalan ada rumpun bunga kana yang cukup lebat. Yakin banget itu rumpun ga ada yang miara, soalnya dia terletak di pinggir kali, dekat sawah, sebelahan sama tumpukan sampah, jauh dari rumah penduduk. Bangunan paling dekat adalah sekolahan. Pun beberapa kali lewat situ aku pernah ngeliat daunnya habis dibabat, kayaknya dikira gulma.
Kembang ini bagus kalau ditanam berjejer-jejer. Rencananya sih bakalan kutanam di sebelah kolam bapak biar tanahnya ga ambrol mulu. Ini tanaman tahan banting. Dia ga gampang mati dan cukup toleran terhadap kondisi kering, tapi lebih bagus kalau nanemnya di dekat air.



Saking asyiknya gali-gali tanah buat nyabut tu kembang, ga sadar udah dapat sekeranjang penuh. Kalau sepedanya dinaikin berasa kaya ikut karnaval tujuh-belasan, hihihi.... Pun daunnya menjulang tinggi nutup pandangan; susah ngeliat jalan. Apa boleh buat, beberapa daunnya harus kupotong demi keamanan.

Sebelum pulang foto-foto dulu, mumpung masih pagi dan cuaca cerah banget. Lokasi ada di depan SD Tanggung (lupa nomornya, IV kalau ga salah) Kecamatan Campurdarat.



Rabu, 23 Juli 2014

Kembang Liar

Esuk-esuk wayah langit cerah paling asik pancen sepedhahan nyang sawah. Mumpung durung pati panas. Kadhang ing pinggir kali ana kembang apik-apik sing kaya celuk-celuk njaluk ditandur nyang omah. Iki jalurku sepedhahan liwat kali Buk Macan Desa Pojok, Kecamatan Campurdarat.

Iki kembang Tithonia. Mbiyen wis tau daktulis ing kene. Yen dipikir-pikir, kali panggen olehku winihe mbiyen ya sajalur karo kali sing dakliwati iki. Bedane mbiyen aku liwat sing kulone Buk Macan, sing iki turut etane.
Esuk-esuk ngene iki yen kena srengenge, byuh rupane apik tenan.


Iki kembang apa, mbuh aku ra weruh jenenge. Rupane apik sih, tapi metu erine. Ra pati atos sih erine, tapi yen kenekan ya panggah lara.



Wis bolak-balik weruh kembang lantana ngene iki sakjane, tapi yen esuk-esuk ngene pancen ketara apik. Rupane maneka warna. Apik, tapi aku wegah nandur ing omah. Gah tenan, akeh erine. Kathik ambune macem-macem, ana sing wangi, ana sing bacin. Tapine aku ra apal sing wangi sing jenis endi wae.